Konflik antara Gaza dan Israel merupakan salah satu konflik paling kompleks dan berkepanjangan dalam sejarah modern. Perang dan ketegangan yang terus berulang bukanlah peristiwa yang muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil dari rangkaian sejarah panjang, kepentingan politik, serta dinamika wilayah Timur Tengah yang rumit. Untuk memahami awal mula terjadinya peperangan antara Gaza dan Israel, perlu menelusuri latar belakang sejarahnya secara menyeluruh.
Akar Sejarah Konflik Palestina dan Israel
Awal konflik Gaza dan Israel tidak bisa dilepaskan dari sejarah Palestina secara keseluruhan. Pada awal abad ke-20, wilayah Palestina berada di bawah kekuasaan Kesultanan Ottoman, lalu beralih ke Mandat Inggris setelah Perang Dunia I. Pada masa ini, terjadi peningkatan imigrasi Yahudi ke wilayah Palestina, yang didorong oleh gerakan Zionisme untuk membentuk tanah air bagi bangsa Yahudi.
Ketegangan mulai meningkat ketika populasi Arab Palestina merasa wilayahnya terancam oleh masuknya pendatang baru. Perbedaan kepentingan dan klaim atas tanah menjadi pemicu konflik berkepanjangan yang belum menemukan titik temu hingga kini.
Pembentukan Negara Israel dan Dampaknya
Pada tahun 1947, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengusulkan rencana pembagian wilayah Palestina menjadi dua negara, yaitu negara Yahudi dan negara Arab. Rencana ini diterima oleh pihak Yahudi, namun ditolak oleh sebagian besar bangsa Arab.
Pada tahun 1948, Israel secara resmi memproklamasikan kemerdekaannya. Peristiwa ini memicu perang antara Israel dan negara-negara Arab di sekitarnya. Akibat perang tersebut, ratusan ribu warga Palestina kehilangan tempat tinggal dan menjadi pengungsi. Gaza kemudian berada di bawah kendali Mesir hingga tahun 1967.
Jalur Gaza dan Perang Enam Hari
Peran Gaza dalam konflik semakin signifikan setelah Perang Enam Hari pada tahun 1967. Dalam perang singkat tersebut, Israel berhasil merebut beberapa wilayah, termasuk Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur. Sejak saat itu, Gaza berada di bawah pendudukan militer Israel.
Pendudukan ini menimbulkan ketegangan baru, terutama karena pembatasan pergerakan, ekonomi, dan akses sumber daya yang dirasakan oleh penduduk Gaza. Kondisi ini menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat perlawanan dan ketidakpuasan di wilayah tersebut.
Munculnya Hamas dan Perubahan Dinamika Konflik
Awal mula peperangan antara Gaza dan Israel dalam konteks modern sangat berkaitan dengan munculnya Hamas. Hamas adalah kelompok politik dan militan Palestina yang berdiri pada akhir 1980-an, berawal dari gelombang perlawanan rakyat Palestina yang dikenal sebagai Intifada Pertama.
Pada tahun 2006, Hamas memenangkan pemilu legislatif di wilayah Palestina. Setahun kemudian, Hamas mengambil alih kendali penuh atas Jalur Gaza. Sejak saat itu, konflik antara Gaza dan Israel semakin intens, ditandai dengan serangkaian serangan roket, operasi militer, dan blokade wilayah.
Blokade Gaza dan Ketegangan Berkepanjangan
Israel memberlakukan blokade ketat terhadap Jalur Gaza dengan alasan keamanan, guna mencegah masuknya senjata dan perlengkapan militer. Namun, blokade ini juga berdampak besar terhadap kehidupan warga sipil, mulai dari keterbatasan bahan pokok hingga akses layanan kesehatan.
Kondisi tersebut memperburuk situasi kemanusiaan dan memicu siklus konflik yang berulang.
Faktor Politik dan Kepentingan Regional
Dukungan dari negara-negara tertentu, peran organisasi internasional, serta kepentingan geopolitik Timur Tengah turut memperumit upaya penyelesaian konflik.
Perubahan kepemimpinan politik di Israel maupun Palestina sering kali memengaruhi arah kebijakan dan respons militer.
Upaya Perdamaian yang Belum Berhasil
Namun, perbedaan pandangan mengenai wilayah, keamanan, dan status Yerusalem menjadi hambatan utama dalam mencapai kesepakatan permanen.
Hingga kini, konflik Gaza dan Israel masih menjadi isu global yang menyita perhatian dunia. Setiap eskalasi baru selalu mengingatkan bahwa akar permasalahan belum terselesaikan sepenuhnya.
Kesimpulan
Dari pembagian wilayah Palestina, pendudukan Gaza, hingga munculnya Hamas, semua faktor tersebut saling berkaitan dan membentuk konflik berkepanjangan.
Memahami latar belakang sejarah konflik ini menjadi langkah awal untuk melihat persoalan secara lebih objektif, sekaligus membuka ruang diskusi menuju solusi yang lebih berkelanjutan di masa depan.